Tampilkan postingan dengan label OBAT KIMIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OBAT KIMIA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 September 2012

Obat Ditemukan, Harapan Untuk Penderita HIV/AIDS


Kemajuan pengobatan anti-HIV atau obat antiretroviral (ARV) telah memberikan harapan untuk dikalahkannya penyakit HIV/AIDS ditemukan sejak 30 tahun lalu. Para ilmuwan pun optimis virus HIV bisa dihilangkan sama sekali dari dalam tubuh pasien.

Menurut pakar penyakit AIDS dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof.Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM, pengertian sembuh dalam infeksi HIV/AIDS adalah sembuh fungsional yang berarti virusnya tetap ada, tetapi tidak berkembang. Pasien juga bisa lepas dari obat anti-HIV atau ARV.

"Orang-orang yang mendapatkan terapi ARV dan pengobatannya terkontrol bisa tetap sehat, produktif, dan hidup normal sampai puluhan tahun. Bukan hanya di dunia, di Indonesia jumlahnya ribuan yang seperti itu," tambahnya.

Ia menjelaskan, memang ada tiga orang yang pernah didiagnosis positif HIV, namun kini dinyatakan sembuh total. Salah satunya adalah seseorang yang menderita leukimia dan menerima transplantasi sumsum tulang belakang. Setelah ditransplantasi virusnya tak terdeteksi lagi alias sembuh total.

Ada juga belasan orang lainnya yang virusnya sudah tidak terdeteksi lagi dalam tubuhnya dan hidup sehat. Tetapi mereka ini masih dalam pengawasan ketat para ahli. Faktanya adalah lebih dari 70 persen orang dengan HIV/AIDS mendapatkan pengobatan ARV menunjukkan peningkatan CD4 atau indikator fungsi kekebalan tubuh.

Orang-orang yang berhasil mengendalikan virus HIV tersebut adalah mereka yang langsung mendapatkan obat ARV selama tiga tahun begitu didiagnosa positif HIV.
Pemberian ARV sendiri juga diwajibkan kepada ibu hamil yang positif HIV. Di beberapa negara tindakan tersebut berhasil menekan penularan HIV dari ibu kepada bayinya
wartanews.com

Viagra, dan Efek Sampingnya


Anda pengguna Viagra, Cialis, atau Levitra? Jika iya, kini saatnya Anda mulai berhati-hati. Menurut peringatan terbaru di Amerika, rutin mengkonsumsi obat yang membuat pria tetap 'greng' di ranjang ini memiliki efek samping pada pendengaran.
Pernyataan bahaya Viagra ini dikeluarkan oleh FDA (Lembaga Obat dan Makanan AS) setelah memperoleh keluhan dari beragam konsumen Viagra, obat buatan Pfizer Inc. (PFE.N), yang mengalami kehilangan pendengaran secara tiba-tiba.

Viagra sebenarnya nama merek untuk obat generik Sildenafil, yang diproduksi oleh Pfizer, hanya salah satu perusahaan obat terbesar di dunia yang mulai di produksi sejak tahun 1998. Hal ini digunakan untuk disfungsi ereksi pada pria agar cukup sehat untuk memiliki aktivitas seksual. Apa yang banyak orang tidak tahu adalah bahwa bentuk kuat dari obat ini juga digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi di paru-paru. Jadi, penting untuk mengetahui bahwa Anda tidak dapat menggantikan salah satu bentuk obat ini bagi orang lain.

Cara kerja Viagra adalah memaju Jantung dan menyebabkan melebarkan pembuluh darah alat kelamin, yang membantu dalam mempertahankan ereksi. Obat ini harus diminum minimal 30 menit sebelum melakukan aktivitas seksual. Mengambil lebih dari 4 jam sebelum aktivitas seksual terlalu lama dan viagra tidak akan efektif setelah itu.

Efek samping Viagra termasuk sakit perut, sakit kepala, pusing, atau sakit kepla berlebihan. Dalam kasus yang lebih ekstrim, diare yang lama.


Efek samping Viagra ini pertama kali dilaporkan oleh dua peneliti di RS Air Force, Bangalore, India, saat seorang pria berusia 44 tahun mengeluh tak bisa lagi mendengar setelah dia mengkonsumsi Viagra selama 15 hari, seperti dikutip dari newspedia, edisi Oktober 2007.

Sampai saat ini tercatat ada 29 kasus gangguan pendengaran yang disebabkan Viagra dan dua merk lain, Cialis dan Levitra. Di mana sekitar 70 persen penggunanya mengalami tuli permanen, dengan atau tanpa dibarengi gejala vestibular yang meliputi telinga berdengung, rasa pusing atau bahkan vertigo.

Kasus yang sama juga pernah terjadi pada 1996, di mana kasus kehilangan pendengaran terjadi setelah dua hari konsumsi obat.

"Kita tidak dapat mengatakan secara pasti semua itu disebabkan oleh obat, tapi kita juga tak bisa membiarkan kasus ini", papar Dr Robert Boucher, spesialis THT dari FDA.

FDA sendiri juga sudah mengeluarkan peringatan untuk Cialis (tadalafil), Levitra (vardenadil), dan Viagra (sildenafil). Semua obat ini rata-rata menggunakan mekanisme yang sama untuk membantu dan mempertahankan ereksi. Mereka membuat relaksasi pada otot polos, dengan menghambat enzim fosfodiestrase (PDE5). Otot polos ini berperan dalam impotensi yang disebut corpus kavernosum, yaitu jaringan yang mendukung ereksi. Namun sampai saat ini belum diketahui pasti apakah senyawa kimiwa tersebut bisa merusak telinga bagian dalam.

Tanggapan produsen 'pil cinta'

Peraturan dari FDA ini mendapat sambutan dari berbagai produsen pil yang dikenal dengan 'pil cinta' tersebut. Eli Lilly (LLY.N), produsen Cialis dan GlaxoSmithKline Plc (GSK.L) yang menjual Levitra menganggap laporan tersebut hanya mewakili sedikit masalah yang sesungguhnya mengenai perangkat medis dan obat.


Bahaya Viagra sesungguhnya, adalah kemungkinan hilangnya penglihatan pada satu atau bahkan kedua mata. Hal ini dapat sementara atau permanen dalam kasus yang ekstrim. Jika Anda memiliki penyakit jantung, diabetes atau kolesterol tinggi atau riwayat masalah mata, risiko ini sangat meningkat. Juga, dalam kombinasi dengan obat-obatan tertentu yang mengandung nitrogliserin atau mononitrate, kematianpun dapat terjadi.

Jika Anda akan menggunakan Viagra, obat ini hanya bisa diresepkan oleh dokter yang pertama kali akan memeriksa diri Anda untuk menentukan apakah Anda dapat menggunakan Viagra dengan aman. Jika Anda memiliki riwayat / gejala jantung, diabetes, kolesterol tinggi dan riwayat penyakit mata, dokter Anda kemungkinan besar tidak akan memberikan resep Viagra untuk kondisi Anda.


Pembuat obat Pfizer dan Lilly menyatakan data mereka tak menunjukkan hubungan sebab akibat apapun antara kehilangan pendengaran dan obat itu.

Wakil Presiden Pfizer Urusan Medis Dr. Ponni Subbiah mengatakan kehilangan pendengaran termasuk dalam bagian iklan Viagra pada labelnya dengan persetujuan FDA pada 1998. Itu terjadi pada kurang dari 2 persen pasien dalam percobaan klinis, yang dikatakannya secara statistik tidak besar dibandingkan dengan orang yang berada dalam kelompok pengganti.

Sementara itu, Keri McGrath, jubir Lilly, mengatakan kajian Lilly baru-baru ini mendapati sebanyak 1,1 peristiwa kehilangan pendengaran secara mendadak per satu juta pengguna Cialis, yang bisa dikatakan lebih rendah dibandingkan dengan angka penduduk secara umum. Hampir 12 juta pria menggunakan resep obat tersebut.

Schering-Plough Corp. (SGP.N) dan GlaxoSmithKline, yang memasarkan Levitra di Amerika Serikat, melalui juru bicaranya Lee Davies mengatakan perusahaan mereka akan mematuhi permintaan FDA dan menyatakan semua kasus kehilangan pendengaran bersifat sementara.

Saat ini National Institute on Deafness and Other Communication Disorders mencatat sekitar 4 ribu kasus kehilangan pendengaran secara mendadak terjadi di Amerika Serikat setiap tahunnya.

FDA meminta pengguna Viagra untuk memeriksakan diri jika mengalami gangguan pendengaran usai mengkonsumsi viagra. Meski pada akhirnya pilihan tetap ada di tangan pada pasien? Mana yang lebih penting perkasa di ranjang atau kehilangan pendengaran?

Rabu, 05 September 2012

Obat Impotensi Picu Gangguan Pendengaran



Para pria yang mengonsumsi obat anti impotensi dalam jangka panjang diingatkan akan bahaya berkurangnya pendengaran. Hasil studi ini disimpulkan dari penelitian terhadap 11.525 pria berusia di atas 40 tahun yang mengonsumsi obat anti impotensi golongan phosphodiesterase type 5 inhibitor (PDE-51). 

Obat-obatan anti impotensi yang menggunakan PDE-51 antara lain obat sildenafil (viagra), tadalafil (cialis), dan vardenafil (levitra).

Pada tahun 2007, badan obat dan makanan Amerika (FDA) mengumumkan para produsen obat anti impotensi untuk mencantumkan efek samping gangguan pendengaran dalam labelnya. Aturan baru ini dikeluarkan setelah beberapa kasus gangguan pendengaran setelah memakai obat golongan PDE-51.

Pakar epidemiologi dari Universitas Alabama, profesor Gerald McGwin, baru-baru ini mempublikasikan hasil studi epidemiologi mengenai kaitan antara obat PDE-51 dengan gangguan pendengaran. Epidemiologi adalah studi yang mengaitkan distribusi penyakit atau masalah kesehatan dalam sebuah populasi yang mungkin berkaitan dengan faktor tertentu.

Studi tersebut memang tidak menemukan kaitan langsung antara obat PDE-51 dengan gangguan pendengaran, tetapi memang ditunjukkan adanya kaitan antara dua hal itu. Hasil studi juga menemukan adanya kondisi lain yang mungkin memicu gangguan pendengaran.

'Meski ada batasan dari hasil studi ini, tapi pasien yang mengonsumsi obat anti impotensi diminta untuk memperhatikan tanda dan gejala berkurangnya fungsi pendengaran. Segeralah mencari bantuan medis untuk mencegah gangguan yang sifatnya permanen," kata McGwin.

PDE-51 pada awalnya diciptakan untuk mengobati hipertensi paru, namun kini secara luas digunakan untuk mengatasi disfungsi ereksi. McGwin mengatakan mungkin memang ada mekanisme biologi bagaimana obat ini menyebabkan gangguan pendengaran.

"Cara kerja PDE-51 pada pasien impoten adalah dengan meningkatkan aliran darah ke jaringan tertentu di tubuh. Ada dugaan mungkin efeknya sama pada selaput di pendengaran. Peningkatan sirkulasi darah di telinga memang bisa menyebabkan gangguan pendengaran," katanya.

Rutin Minum Pereda Sakit Picu Impotensi



Bagi Anda khususnya pria yang rutin menenggak obat pereda sakit sebaiknya mulai waspada. Penggunaan obat-obat pereda rasa sakit atau kerap disebut painkiller yang terlalu sering diduga berkaitan dengan gangguan fungsi seksual di kalangan kaum Adam.
Studi terbaru yang dipublikasikan Journal of Urologymengindikasikan adanya hubungan antara impotensi dan penggunaan obat-obat penahan rasa sakit. Hubungan ini bahkan tetap muncul meskipun peneliti telah memperhitungkan beberapa faktor seperti usia dan beberapa jenis penyakit yang mungkin dapat menjelaskan keterkaitan.
Berdasarkan riset tersebut, pria yang secara rutin menenggak obat-obat seperti aspirin,acetaminophenibuprofen, dan celebrex berisiko mengalami disfungsi ereksi (DE) hingga 38 persen lebih besar, ketimbang pria yang tidak menenggak obat yang juga disebut nonsteroidal anti-inflammatory itu.
Menurut penjelasan Dr Joseph Gleason, urolog yang menulis penelitian ini, obat-obat pereda sakit memang dapat mengganggu produksi hormon yang memicu ereksi pada pria. Hal itu setidaknya dapat membantu memberikan penjelasan akan temuan ini.
Namun, Gleason menekankan, penelitian ini tidak serta-merta membuktikan bahwa obat painkillerdapat menyebabkan impotensi. Menurutnya, faktor-faktor lainnya yang belum dapat diketahui sangat dimungkinkan ikut berperan memicu DE.
Sebagai contoh, banyak pria yang meminum aspirin dalam dosis rendah karena  dalam kondisi berisiko tinggi mengalami serangan jantung. Alhasil, pembuluh darah mereka tidak sedang dalam kondisi terbaiknya. Secara otomatis, hal itu juga dapat memengaruhi tingkat kekerasan penis.
"Kami menyebut penis sebagai termometer bagi penyakit vaskuler atau problem  yang berkaitan dengan pembuluh darah," ujar Dr Brant Inman, urolog dari Duke University Medical Center di North Carolina, yang tak terlibat dalam riset ini.
Inman menambahkan, pembuluh arteri dalam penis salurannya lebih kecil ketimbang yang mengalir di jantung dan, oleh sebab itu, mungkin saja bisa tersumbat selama beberapa tahun sebelumnya. Arteri yang menyempit dapat menghalangi aliran darah yang seharusnya membuat penis berkembang dan menjadi keras.
Lima kali seminggu
Dalam penelitiannya, Gleason beserta koleganya menganalisis hasil kuesioner sekitar 81.000 pria berusia 45 hingga 69. Sekitar 50 persen pria mengaku mengonsumsi obat pereda sakit secara teratur (sekurangnya lima kali dalam seminggu) dan kurang dari sepertiganya dilaporkan mengalami impotensi mulai dari level ringan hingga parah.
Pria yang mengaku rutin menenggak painkiller, 64 persennya mengatakan, mereka tidak pernah mengalami ereksi. Sedangkan pria yang mengaku tidak sering menggunakan obat, kasus DE hanya ditemukan 36 persen.
Setelah memperhitungkan beragam faktor, seperti usia, berat badan, tensi, dan riwayat sakit jantung, peneliti masih menemukan risiko lebih tinggi di kalangan pria yang menggunakan painkiller, yakni mencapai 38 persen.
Oleh karena penelitian ini tidak menguji obat secara langsung, Inman berpesan agar pria tidak perlu menghentikan penggunaan painkillers karena khawatir tidak bisa ereksi. 
(kompas.com)

Waspadai Kelebihan Dosis Parasetamol


Penelitian mengindikasikan, jutaan orang di dunia mungkin berada pada risiko kelebihan dosis parasetamol. Penggunaan yang tidak sesuai anjuran dari obat-obat pereda sakit paling populer ini bukan hanya akan menimbulkan risiko overdosis, melainkan juga kerusakan pada organ hati.

Kajian para ahlii dari Northwestern University di Chicago AS menyatakan, hampir 25 persen orang dewasa keliru dalam mengonsumsi parasetamol. Banyak di antara pasien meminum obat ini melebihi dosis yang direkomendasikan dalam kurun waktu 24 jam.

Para pengguna kebanyakan menghiraukan instruksi dosis atau tata cara penggunaan, terutama kaum lanjut usia yang kerap lupa berapa tablet yang sudah mereka konsumsi. Ada pula pasien yang tidak menyadari kalau mereka sedang dalam perawatan menggunakan obat lain yang mengandung acetaminophen, bahan aktif  Parasetamol.

Rekomendasi dokter untuk dosis maksimal parasetamol adalah delapan tablet 500 mg dalam sehari. Maksimal hanya dua tablet saja untuk sekali minum dalam setiap empat jam. Bila melebihi batas yang ditentukan, salah satu konsekuensinya adalah overdosis yang menyebabkan kerusakan liver dan penumpukan cairan di otak yang berisiko fatal.

Dalam riset yang dimuat Journal of General Internal Medicine edisi online tersebut, Dr Michael Wolf melakukan kajian mengenai prevalensi penyalahgunaan acetaminophen dan kemungkinan overdosis. Wolf mewawancarai lebih dari 500 pasien dewasa yang berobat ke klinik di sejumlah kota di AS antara September 2009 hingga Maret 2011.

Para peneliti menguji sejauhmana pemahaman pasien mengenai dosis dan kemampuan mengonsumsi obat acetaminophen secara tepat. Hasilnya ternyata cukup mengejutkan. Lebih dari seperempat pasien berada dalam risiko overdosis karena mengonsumsi obat pereda sakit melebihi batas maksimal 4 gram dalam 24 jam. Selain itu, ada 5 persen pasien yang membuat kesalahan fatal karena menenggak obat lebih dari 6 gram dalam 24 jam. Sedangkan hampir 50 persen pasien berisiko overdosis karena melakukan "double-dipping" atau menenggak dua jenis obat yang mengandung acetaminophen.

"Temuan kami mengindikasikan banyak konsumen yang tidak mengenal atau membedakan bahan aktif dalam obat pereda sakit yang dijual bebas, mereka juga tidak menyimak dengan cermat instruksi pada label kemasan obat," ujar Wolf.

"Dengan adanya prevalensi, risiko signifikan dari efek buruk, dan minimnya pemahaman, seorang dokter seharusnya memberi panduan  dalam pengambilan keputusan dan menganjurkan pasien tentang penggunaan obat yang tepat," tambahnya. 
 OMPAS.COM

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India